Terjebak Nostalgia di Kali Kedua: Nokia 6

Nokia comeback? Nokia clbk sama Android? Nokia move-on dari Windows-nya Microsoft? Meskipun begitu, sejak diumumkan pada awal tahun 2017 oleh HMD Global (pemilik lisensi brand Nokia saat ini), ndak terlalu ada impresi yang wah. Ndak terbersit sedikit pun malah.
Sampai suatu sore pada obrolan santai bersama Papa di teras rumah, tiba-tiba saja beliau bertanya “Nokia sekarang apa kabar ya mas? Sudah kukut ya?”. Mendapat pertanyaan begitu ya sedih, ya bingung juga. Jelas tersirat beliau kangen sama brand yang pernah menguasai pasar handphone hingga tahun 2009-an ini. Alhasil sekenanya hanya bisa menjelaskan singkat ke beliau kalau sebenarnya brand asal Finlandia tersebut masih ada, cuma kemarin-kemarin produknya lagi ndak ada yang bagus. Titik. Licik.
Dari obrolan itulah mulai muncul niatan di dalam hati, “InshaAllah nanti deh Pa, kalau ada rejeki. Papa bakal megang Nokia lagi.” Sejak itulah mulai rajin searching informasi mengenai Nokia 3, Nokia 5, dan Nokia 6. Ndak usah nyari Nokia 4 takut nanti Gooners, Arsenal, dan Arsene Wenger tersinggung. Dengan mempertimbangkan spesifikasi dari 3 smartphone Android rilisan terbaru dari Nokia tersebut, diputuskan sepertinya Nokia 6 lah yang paling cocok buat Papa. Semoga.   
  • Nokia 3: 5 inci HD, Mediatek MT6737, RAM 2GB, Storage 16GB, Kamera 8MP.
  • Nokia 5: 5,2 inci HD, Snapdragon 430, RAM 2GB, Storage 16GB, Kamera 12MP.
  • Nokia 6: 5,5 inci Full HD, Snapdragon 430, RAM 3/4GB, Storage 32/64GB, Kamera 16MP.
Sebelum Lebaran alhamdulillah Nokia 6 varian 4/64GB kebeli juga neh dengan mahar Rp 3,4 juta pas. Pas nemu murah di salah satu lapak Tokopedia dan tentunya dengan bantuan perbandingan harga di Pricebook.co.id. Sengaja memilih varian tertinggi karena ingin secara maksimal mencoba user experience smartphone ini. Oiya unit yang saya beli adalah yang masih versi China, bukan yang versi Global. Selain yang versi Global hingga saat ini masih sulit ditemukan di pasaran, juga karena ada alasan-alasan lain yang akan dijelaskan kemudian.

BOX YANG MENGESANKAN
HMD Global membungkus paket pembelian Nokia 6 dengan box yang berukuran ndak terlalu tebal, hanya tipis dan melebar. Hal tersebut memberikan kesan unik, eksklusif, sekaligus kekinian. Menjadikannya hadiah tanpa dibungkus kertas kado pun rasanya ndak akan memalukan. Saya paling suka sama gambar tangan saling menggenggam yang menghiasi bagian depan box-nya yang didominasi warna hitam, semiotik sekali, mengingatkan jargon ikonik Connecting People khas mereka. Sudah giveable banget kan? Di box-nya terdapat informasi made in China, jadi ndak usah berharap smartphone ini made in Europe seperti dahulu kala ya, sebab meski HMD Global kantornya tetap di Finlandia fakta lainnya juga masih anak perusahaan dari Foxconn yang pusatnya memang di Taiwan dan pabrik terbesarnya berada di China.
Di dalam box, selain ada device-nya sendiri terdapat buku panduan manual yang sepertinya butuh Jackie Chan untuk menterjemahkannya, kartu garansi distributor (untuk Indonesia resminya belum ada), SIM card ejector bentuk pipih bertuliskan NOKIA, kepala charger berwarna hitam dengan output 5V/2A, kabel USB berwarna hitam sepanjang 120 cm, serta earphone yang juga berwarna hitam. Itu saja. Cukup lengkap seh, hanya saja hambar jika dibandingkan dengan beberapa kompetitornya yang belakangan ini lagi gemar memberikan gimmick seperti menyertakan case, pelindung layar, voucher, ataupun sekedar tiket 2-shot dan handshake bersama member JKT48 dalam paket pembeliannya. Abaikan saja delusi yang terakhir.

DESAIN BODY MELEBIHI EKSPEKTASI
Salah satu alasan saya rela membeli Nokia 6 adalah karena desainnya yang tampan. Lebih ke maskulin daripada ke feminim, Papa pasti juga akan suka. Sepintas terlihat seperti pendahulunya Microsoft Lumia, namun setelah digenggam dan dilihat dari dekat unibody smartphone ini terasa lebih premium dan sangat kokoh. Penggunaan material aluminium 6000 series yang dianodisasi entah bisa membuatnya selayaknya smartphone flagship meski harganya berada di kisaran kelas mid-range. Build quality di tiap sisinya rapi, finishing-nya halus, bisa dibilang mendekati sempurna.
Pada bagian depan Nokia 6 macho banget. Keseluruhannya berwarna hitam legam dengan efek kaca lengkung 2,5D yang mengelilingi tepian layarnya. Selain itu terdapat tulisan samar NOKIA di pojok kanan atas bersebelahan dengan kamera depan, speaker telpon, sensor proximity, dan LED notifikasi. Fyi pada Nokia 6 versi Global justru LED notifikasi ini dihilangkan. Jadi ya beruntunglah saya telah memilih yang versi China, karena LED notifikasi ini tentu masih akan dibutuhkan Papa yang punya kebiasaan jarang mengecek handphone. Lalu di bawah layar ndak lupa terdapat tombol home yang merangkap fingerprint dan 2 tombol kapasitif minimalis yang sudah dilengkapi backlit.
Pada bagian frame yang menghubungkan bagian depan dan belakang smartphone ini terasa mewah dengan dihimpit 2 garis chamfered edges. Ndak hanya mewah tapi juga sangat kuat, solid, dan mampu memberikan grip yang nyaman saat digenggam meski bobot smarphone ini mencapai 169 gram dan dimensinya yang bongsor 154 x 75,8 mm. Ketebalan smartphone yang hanya 7,9 mm juga turut andil seh. Di sisi kanan frame-nya terdapat tombol power dan volume. Di sisi atas terdapat port audio jack 3.5 mm dan lubang microphone. Di sisi kiri terdapat SIM tray bertipe hybrid. Di sisi bawah terdapat 2 lubang kecil speaker dan lubang micro USB. Di Sissy Priscillia terdapat pembalap Rifat Sungkar, ngeeeeng.
Pada bagian belakang tampilannya polos. Pada versi Global ndak terlalu polos seh karena ada corat-coret tulisannya. Saya pun ndak salah saya memilih yang versi China varian warna Silver yang ternyata ndak terlalu tampak buluk karena mudah terjeplak sidik jari daripada memilih varian warna Black Matte ataupun Tempered Blue. Polosnya terlihat lebih bersih sehingga kesan elegannya tetap terjaga. Bentuk antenanya memang mainstream namun bentuk kameranya yang sedikit berbeda dari smartphone kebanyakan dan adanya tulisan NOKIA yang dibuat vertikal sukses memberikan daya pikat tersendiri. Tulisan NOKIA tersebut bisa saja menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka yang pernah ikut menjadi saksi kejayaan brand ini, termasuk Papa.
Ketampanan desain Nokia 6 bisa semakin paripurna andai saja jidat dan dagunya ndak terlalu besar, tombol-tombol di bawah layarnya ndak terlalu ke bawah, serta kamera belakangnya ndak menjorok ke luar. Sedikit disayangkan.

SALAH SATU LAYAR IPS YANG NYAMAN DIPANDANG
Tanpa mengurangi rasa hormat, layar adalah faktor paling penting dalam memilih smartphone untuk Papa yang kini daya penglihatannya semakin menurun. Menurutku layar pada Nokia 6 adalah salah satu layar IPS 5,5 inchi yang paling nyaman dipandang. Memiliki resolusi Full HD 1080 x 1920 dengan kerapatan 403 piksel, rasio kontras 1330:1, dan tingkat kecerahan hingga 484 nits (pada versi Global hanya 450 nits) ndak perlu diragukan lagi layarnya mampu menghasilkan warna yang sangat akurat, detailnya tajam, dan auto brightness-nya bekerja sangat baik di bawah terpaan sinar matahari sekalipun. Ditambah lagi layarnya dilengkapi Bluelight Filter yang bisa memberikan rasa aman terhadap mata. Selain aman terhadap mata juga aman terhadap goresan karena layarnya sudah dilapisi oleh kaca Corning Gorilla Glass 3. Respon multi touch layarnya juga baik. Papa yang saya tahu belakangan ini lebih sering membaca Al-Quran via handphone semoga terbantu dengan semua kelebihan yang ada dari layar smartphone ini. Barakallahu.

DAPUR PACU MEDIOKER
Apabila nantinya Nokia 6 ndak terlalu populer maka yang paling bisa dijadikan kambing hitam adalah SoC (System of Chip)-nya yang terlalu medioker untuk smartphone seharga kelas mid-range. Hanya menggunakan SoC jadul kelas entry-level keluaran 2 tahun lalu Qualcomm Snapdragon 430 Octa Core 1,4 GHz Cortex-A53 dengan fabrikasi masih 28 nm. Sungguh terlalu macak inferior di saat beberapa kompetitornya sudah saling menggunakan SoC terbaru, dengan fabrikasi 14 nm yang lebih hemat daya pula. Sebenarnya ndak ada yang salah seh dengan SoC ini, dengan skor Antutu di kisaran 44 ribuan tentu akan masih sanggup untuk sekedar menjalankan aplikasi-aplikasi sosial media dan sejenisnya, asal ndak digunakan untuk melakukan editing video dan bermain game grafis berat. Pernah saya coba menjalankan game Afterpulse, selain frame rate-nya nyungsep patah-patah, suhu panas yang ditimbulkan juga meningkat tajam. Ndak tega euy, ciyan SoC-nya ngos-ngosan.
Namun mengingat smartphone ini dipakai Papa, yang dibutuhkan bukan SoC yang powerfull. Melainkan butuh RAM dan memory internal yang lega untuk mengakomodir kebiasaan Papa yang hobi menumpuk berbagai aplikasi di recent app. Ngakunya seh selalu lupa cara menghapusnya, hhihihiii terserah deh Pa. RAM 4GB pada smartphone ini sudah saya tes mampu membuka 40an aplikasi sekaligus tanpa ada yang diclose sekalipun. Dan memory internal sebesar 64GB kira-kira sudah cukup lah ya buat Papa, yang palingan cuma diisi sama file foto-foto cucu kesayangannya, lagu-lagu nostalgia, dan beberapa klip dari grup WhatsApp sejawatnya yang biasanya tersimpan otomatis di memory internal. Aman.

SISTEM OPERASI ANDROID TERBARU
Nokia 6 adalah kali kedua smartphone Nokia yang menggunakan sistem operasi (OS) Android, setelah sebelumnya Nokia X/XL pada tahun 2014 hadir menggunakan Android 4.1.2 Jelly Bean namun gagal karena tampilan antar muka yang terlalu aneh serasa bukan Android. Seakan belajar dari kesalahan, di kali keduanya dengan robot hijau ini Nokia ndak ingin terlalu macam-macam lagi. Menggunakan OS Android 7.1.1 Nougat terbaru tampilan antar muka smartphone ini hanya terlihat serupa stock Android. Sepintas mirip dengan tampilan pada Google Pixel, namun berbeda karena ternyata pada Nokia 6 menggunakan Cyanogen Mod sebagai basis launcher-nya. Tetap minim kostumisasi ndak ada opsional untuk mengganti tema, secara default hanya sebatas ganti ikon bulat-bulat biru, opsional on/off app drawer, dan penambahan beberapa nada dering khas Nokia saja. Saya malah senang begini karena ndak terlalu membebani RAM dan internal memory-nya.
Fitur-fitur Android terbaru tentunya juga sudah disematkan pada smartphone ini. Mulai dari Google Assistant, Instan App, Direct Reply, Multi Windows, Smart Motion, Smart Gesture, hingga Screen Zoom.
Salah satu kendala yang dijumpai pada sistem operasinya yaitu ndak adanya Google Play pada Nokia 6 versi China yang saya beli ini. Jadinya harus oprek sana-sini. Cara mengakalinya jauh lebih ribet dari menginstal Google Play pada Xiaomi yang memakai ROM China. Kalau ndak mau ribet dan mau yang bisa langsung dipakai, ndak disarankan untuk membeli yang versi China sih.

KETAHANAN BATERAI TERBANTU OS
Layar 5,5 inchi Full HD, SoC-nya pun masih fabrikasi 28 nm bukan termasuk yang hemat daya, dan semuamuanya hanya disokong baterai dengan kapasitas 3000mAh. Ternyata kapasitas baterai yang ndak terlalu besar ini bisa dimaksimalkan oleh OS Android 7.1.1 Nougat-nya yang memang dikenal efisien. Cara kinerjanya yang paling terlihat nyata yaitu dengan mematikan beberapa core pada SoC-nya saat penggunaan ringan. Hasilnya syukurlah ndak seburuk yang diperkirakan, dalam pemakaian wajar daya tahan baterai ini mampu bertahan standby hingga 24 jam lebih dengan screen on time sekitar 5 jam-an. Itu belum lagi kalau fitur Doze-nya diaktifkan loh. Awet atau boros, ya terhitung relatif. Mungkin buat Papa yang bukan heavy rotation user pada penggunaan sehari-harinya itu sudah termasuk awet.
Untuk pengisian daya, pada beberapa review tertulis sudah fast charging. Etapi lah kok kepala charger bawaannya hanya 5V/2A dan USB-nya belum pakai yang Type-C. Dites pakai aplikasi Ampere pun daya yang masuk ndak pernah lebih dari 2000 mA. Lama pengisian daya dari 0 sampai 100% rata-rata membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menitan. Fast charging dari mananya neh woi? Ya penasaran dong, kepoin sana-sini, lalu saya coba pakai kepala charger lain yang sudah support quick charge. Dan voilla fitur fast charging-nya langsung aktif, tapi panas yang ditimbulkan ndak wajar sampai menyentuh 46° C. Yasudahlah ya mending balik pakai charger bawaannya saja, daripada resiko meledak. Boooom deeer, yow wazzzap.

KAMERA TANPA TEKNOLOGI PUREVIEW ATAU ZEISS
Penyebab Nokia 6 rawan ndak populer berikutnya justru terletak pada sektor kamera. Dengan absennya teknologi PureView ataupun Zeiss, rangorang serasa ndak terlalu peduli lagi dengan smartphone ini. Rangorang sudah terlanjur berharap banyak menantikan kolaborasi salah satu teknologi kamera tersebut dengan OS Android pada smartphone ini. Ya sebenarnya kalau mau dirunut, mau pakai teknologi tersebut atau ndak, selama ini Nokia toh selalu serius menggarap sektor kamera pada setiap produk handphone-nya. Jangan keburu kecewa dulu lah.
Kamera belakangnya memiliki resolusi 16 megapiksel sudah mampu menghasilkan foto yang tajam kaya akan detail kok. CMOS, aperture f/2.0, dan ukuran piksel 1.0µm pada kameranya juga sudah mampu menghasilkan foto dengan warna yang natural, sebaran dynamic range mantap, dan tingkat saturasi yang pas. Pada kondisi lowlight masih selalu tampak ada penurunan detail dan fokusnya, tapi lagi-lagi dynamic range-nya mampu mengontrol sebaran glare dengan cukup apik. Sebenarnya kalau di lowlight lebih aman pakai dual LED flash-nya saja seh. Di sisi lain, dynamic range yang apik ini malah seakan membuat hasil mode HDR-nya ndak terlalu signifikan. Tapi yang bikin gemes dari kamera smartphone ini adalah lock auto fokusnya yang lambat, lari-larian, padahal sudah ada fitur PDAF-nya. Entahlah. Masalah ini sangat terasa ketika digunakan untuk merekam video. Berantakan, terlebih ndak ada stabilizer-nya. Oiya tampilan antar muka aplikasi kameranya juga sangat sederhana euy, ndak ada opsional untuk mode profesional seperti mengatur jarak fokus dan aperture. Papa mah kalau mau foto ya langsung foto saja, ndak terlalu paham, ndak mau repot ngatur manualnya juga. Yang penting mah gampang pakainya, ya kan Pa?
Kamera depan karakternya hampir sama dengan kamera belakangnya hanya saja resolusinya lebih kecil, 8 megapiksel, sehingga ndak bisa sedetail kamera belakangnya. Untuk sekedar dipakai video call dan update Instastory masih oke dipakai lah. Kalau harus dihandalkan untuk ngevlog jalan-jalan ke sana ke mari mending jangan deh, karena kameranya (sekali lagi) ndak dilengkapi stabilizer dan cakupan sudut gambar yang bisa ditangkap kameranya juga sempit hanya 84° saja.

SENSOR DAN KONEKTIVITAS LENGKAP
Sensor yang disematkan ke dalam Nokia 6 terbilang sudah cukup lengkap: fingerprint, accelerometer, gyroscope, compass, hall, proximity, hingga light sensor. Semua sensor performanya sangat akurat, responsif, dan lancar tanpa ada bug yang mengganggu.
Jaringan provider yang bisa ditangkap smartphone ini tentunya sudah hingga 4G LTE. Sayangnya slot tray yang dipakai bertipe hybrid yang mana slot kedua SIM card kudu rebutan dengan microSD. Untuk pemakaian Papa, sudah jelas akan lebih memilih slot keduanya diisi dengan SIM card saja karena biar ndak ngeluh pulsa pada SIM card utamanya terus terpotong kalau paketan datanya jadi satu dengan SIM card utamanya. Lebih aman dibedakan. Sedangkan untuk penunjang konektivitas lainnya terdapat Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.1, RadioFM, microUSB 2.0 yang support USB OTG (On The Go), GPS, dan NFC (Near Field Communication). Asik neh support NFC, sepertinya akan berfaedah buat Papa di kemudian hari, nanti deh Pa diajarin cara pakainya...

KELUARAN SUARA KENCENG
Mengharapkan gimmick ada paket pembelian, eh ternyata gimmick-nya malah muncul pada sektor audionya. Ya, saya rasa embel-embel Dolby Atmos pada smartphone hanyalah gimmick saja karena suara yang dihasilkan ternyata ndak jauh lebih baik dari pesaing terdekatnya seperti Redmi Note 4 ataupun ASUS Zenfone 3 ZE520KL, alias ya biasa saja. Treeble-nya standar dan bass-nya malah ndelesep kurang nendang. Hanya saja suara yang dihasilkan memang bisa kenceng maksimal dan ndak pecah. Terkadang seusia Papa memang hanya butuh yang begini. Asal terdengar kencang, yasudah ndak perlu bingung kalau ada telpon masuk.
Hampir ketinggalan mengenai earphone bawaannya, hhahahaa skip sajalah, ndak usah diharapkan. Kualitas suara yang dihasilkan hanya semacam earphone dengan harga di bawah Rp 50 ribuan. Build quality-nya yang dari plastik juga ndak terlalu cocok disandingkan dengan ketampanan smartphone ini. Jomplang.
Overall, sejatinya Nokia 6 bukanlah smartphone yang buruk kok karena sesungguhnya memang ndak ada yang buruk kalau bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Di kali keduanya menggunakan OS Android ini, saya rasa brand legendaris ini berhasil menempatkan Nokia 6 sebagai awalan yang baik untuk bisa kembali bersaing dengan brand besar lainnya. Saya mah ikhlas rela saja dijebak kalau memang smartphone yang diproduksi setampan Nokia 6 ini. Saya yang sudah menebusnya juga ndak terlalu kecewa, malah masih ingin membawanya jalan-jalan ke sana ke mari buat sekedar pamer ketampanan smartphone ini. Hhahahaa ndak kok, tetap buat Papa, yang penting mah Papa bisa senang, bisa megang Nokia lagi. Love you, sehat terus Pa.....

NB: Tulisan ini dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Kontes #ReviewDuluYuk Pricebook ID edisi Agustus 2017

Comments

Post a Comment