Di Balik Oooo dan Hhahaha Mesakke Bangsaku

Sempat diombang-ambing kerjaan yang memaksa harus menetap di Solo beberapa waktu belakangan ini, saya tetap kekeuh ndak bakalan (berani) mengubah niat awal: 16 November 2013 harus nonton tur stand up comedy-nya Pandji Pragiwaksono, Mesakke Bangsaku, di Malang. Sengaja mau mbelani nonton yang di Malang karena tau ini bakalan bersejarah buat Malang, bersejarah karena Pandji pertama kalinya tur stand up comedy di Malang. Komunitas Stand Up Indo Malang butuh bersabar untuk mewujudkan momen ini, butuh pembuktian semacam Reggy Hasibuan dan Arie Kriting untuk membuat Pandji berkenan memasukkan Malang ke dalam daftar turnya, dan tentunya Pandji juga butuh sponsor semacam Smartfren (@smartfrenworld) dan Citilink untuk membawa tur Mesakke Bangsaku ke Malang *terharu*.

Malam tanggal 15 November sampai di Malang. Malam tanggal 16 November pukul 17.45 WIB dengan mengabaikan hujan nekat meluncur ke Basement Dome UMM dari kontrakkan yang cukup jauh di bilangan Sulfat. Sungkan kalau datang telat, di timeline yang punya acara sudah mewanti-wanti supaya datang ndak telat. Sebagai penonton, ini pertama kalinya saya datang 1 jam sebelum acara dimulai, detik itu juga Pandji sudah mulai bisa mengubah kebiasaan saya, hhehehe *tutup muka*.

Menghargai yang tepat waktu, pukul 19.00 WIB lampu seruangan Basement Dome UMM dimatikan tanda acara dimulai, dimulai dengan pemutaran video bumper Mesakke Bangsaku bikinan Nur Kholiq dari Stand Up Indo Malang. Begitu selesai pemutaran video bumper, ndak asing di telinga langsung terdengar suara shadow announcer Wawan Saktiawan (juga) dari Stand Up Indo Malang dengan heboh dan meriahnya mempersilahkan mc untuk ke atas panggung, yang ternyata dia sendiri yang jadi mc-nya, opo-opoan iki coba. Sebelum memanggil opener ke atas panggung, analogi Wawan yang menghubungkan Mesakke Bangsaku dengan mesakke-mesakke yang lainnya dan bit-bit cerdasnya mempromosikan Smartfren sukses menghangatkan dan menaikkan antusias penonton.

Opener pertama, adalah opener lokal yang dipilih Pandji bersama Smartfren berdasarkan rekomendasi dari teman-teman di timeline lewat hashtag #SmartComic. Siapa sih yang ndak mau jadi openernya Pandji? Apalagi di Malang hampir semua komika mengidolakan dia. Proses menuju pemilihan ini menimbulkan persaingan sangat sengit namun sehat antar komika di komunitas seperti melihat awal musim 2013/2014 lalu Wellbeck, Chicharito, Rooney yang berbeda-beda karakter dan kelebihannya berusaha merebut hati David Moyes untuk mendampingi RvP di lini depan Manchester United. Persaingan yang membuat komika-komika di komunitas menjadi lebih dewasa. Untuk Mesakke Bangsaku di Malang terpilihlah Abdurrahim Arsyad. Materi self-effacing, mengkritik Indonesia dengan rima berakhiran a, memprotes tagline Soeharto yang cuma pakai bahasa Jawa, memaparkan praktek program sertifikasi guru yang sudah mau pensiun, sampai usulan untuk mengembangkan UMM yang dibawakan Abdur malam itu semuanya pecah.


Lanjut! Masuk ke opener kedua, komika cangkingan Pandji dari Bekasi, Barry Williem. Awalnya sempat underestimate kenapa Pandji ndak nyangking komika lain yang lebih terkenal aja sih. Tapi begitu melemparkan bit-bitnya tentang kampusnya sendiri dan juga salah satu kampus Cina yang ada pinggiran ibukota sono, menghubungkan cerita FTV ke kehidupan nyata, sampai cerita tentang keluarga Cina-nya, behhhh.....saya merasa benar-benar salah sudah underestimate, maaf ya Bar *sungkem saliman*. Materi dia yang kampus-able dan mahasiswa banget ini ternyata cocok juga dibawakan di Malang yang memang banyak kampusnya. Kualitas jempolan komika-komika dari Bekasi ternyata memang bukan mitos.


Dan jreng jreng jreeeng! Inilah yang ditunggu-tunggu...


Diiringi lagu Borju-nya Neo, berjalan membelah riuh penonton dari depan panggung menuju atas panggung dengan sorotan follow spot, sesekali menyambut hi-touch penonton, aura dari Pandji terasa begitu wah. Mengimbangi kesan wah dari first impression tersebut, di atas panggung langsung diimbangi dengan adanya sesajen secangkir wedhang (sepertinya) kopi, yang memberikan kesan sederhana dan santai. Kesan sederhana dan santai ini terlihat membantunya dalam menyampaikan materi-materinya yang berat. Dia sendiri sadar kalau materi yang dibawakannya berat, makanya dia membuka sesi tanya di akhir penampilannya, suatu hal baru untuk pertunjukkan stand up comedy. Satu lagi yang membantu materi beratnya bisa diterima, meski ini sepele sih, Pandji menghindari untuk menggunakan kata sapaan loe-gue (yang biasanya komika dari ibukota lainnya tetap pakai meskipun di Malang sekalipun).

Materi Pandji memang beda dari 2 show spesial dia sebelumnya. Materi di Mesakke Bangsaku memang ndak se-ngepop materi di Bhinneka Tunggal Tawa (seperti yang saya tonton di DVDBTT) atau ndak se-variatif Merdeka Dalam Bercanda (seperti yang saya tonton pas di Surabaya). Untuk materi di Mesakke Bangsaku, sepertinya dia hanya ingin fokus menyampaikan 2 pokok permasalahan besar namun secara lebih mendalam yang menunjukkan bangsa ini patut dikasihani: minoritas dan pendidikan. Dari 2 pokok pembahasan itu pun keren lah pokoknya. Keren karena laugh per minute-nya selama 1 ½ jam tetap tinggi stabil terjaga. Itu yang selalu bikin saya kagum sama Pandji.


Ndak cuma oooo dan hhahaha, dari Mesakke Bangsaku banyak pelajaran yang ndak ada di halaman buku sekolahan manapun yang sukses membuat otak ini layaknya tobron, beberapa diantaranya:
  • Sekecil apapun fasilitas yang dibutuhkan kaum minoritas, khususnya difabel, seharusnya bersama-sama ikut kita support, ndak harus nunggu pemerintah.
  • Beda dengan hafalan, kreativitas itu ndak akan pernah salah, jadi janganlah menertawakan kesalahan orang yang lagi bermain-main dengan kreativitasnya.
  • Gunakan apapun sesuai dengan haknya, kalau di luar hak ya jangan digunakan.
  • Menentukan pilihan itu ndak asal memilih, apapun itu, khususnya di Pemilu 2014 nanti, harus lebih memakai fakta daripada opini.
  • Dan buat komika (yang masih ingin belajar), apa yang sudah dilakukan Pandji ini bisa jadi contoh yang baik dalam menentukan delivery materi (meski berat), urutan bit, riffing, dan lainnya. Dia komika panutan, menurut saya.

Terimakasih Pandji, semoga standing applause 400an penonton di Basement Dome UMM bisa jadi oleh-oleh yang manis dari Malang.
Terimakasih dan selamat Stand Up Indo Malang, ini acara paling rapi yang pernah kalian eksekusi bro!
Terimakasih Smartfren, akhirnya tau kenapa ini sponsor mau jadi sponsor penuh Mesakke Bangsaku, we live smart and we hate slow :)

Comments

  1. Replies
    1. hhehe iya nonton aja kalau ada turnya dia... atau event stand up comedy lainnya :)

      Delete

Post a Comment