Terimakasih dan Bismillah Untuk Itu

"Kamu tahu kenapa kamu putus sama mantanmu yang itu? Gini, aku juga sebenernya gak mau ikut ribut campur tapi aku kasihan juga ke kamu mas. Iya emang orang tuanya keliatan setuju-setuju saja anaknya jalan sama kamu mas, aku awalnya juga ngerasa gitu sebelum dianya curhat ke aku pas kamu putus sama dia. Orang tua juga gak mau lihat anaknya juga berada di tangan orang yang masa depannya belum jelas, kuliah aja belum lulus-lulus. Iya, meskipun kamu juga sekarang sudah bisa nyari uang sendiri, tapi kelihatannya tetep serabutan juga kan? Orang tuanya sebenernya suka kok sama kamu, sama attitude-mu selama ini. Tapi ya itu, ada sedikit kecemasan yang dipikir sama orang tuanya. Aku nyampaikan ini bukan karena aku atau siapa yang nuntut itu, atau aku yang ngebet pengen lihat kamu sama dia balikan lagi, toh kalaupun kamu bisa buktikan itu belum tentu juga toh kamu sama dia balikan, gak ada jaminan, dan itu terserah kamunya sih mas... Tapi janji ya, gak pakai marah ke dianya..."

Itu sekiranya kurang lebih penggalan obrolan santai tapi penuh makna antara saya dengan seorang sahabat saya di Coffee Time malam ini, terimakasih penyampaiannya. Saya hampir nangis, tapi ya ndak lucu juga. Terimakasih, sangat terimakasih buat kamu dan orang tuamu yang sangat-sangat menginspirasi saya, sekali lagi terima kasih. Bismillah, saya akan buat keputusan juga malam ini, tapi bukan untuk kamu dan orang tuamu, tapi untuk saya dan orang tua saya...

Comments

Popular Posts