She Has Indefinitely Love Which Still I Need

Hmmm, 2 hari lagi, tanggal 22, sekiranya tanggal itu mungkin akan heboh sama hari ibu ya. Saya sendiri ndak pernah mengucapkan “selamat hari ibu” ke ibu saya setiap tanggal 22. Saya menggantinya dengan ucapan “i love you, mom” setiap waktu baik secara langsung ataupun hanya terselipkan dalam doa, karena sadar kasih ibu ndak akan bisa diukur hanya dengan 1 hari saja dalam tiap tahunnya. Ucapan tersebut juga ndak cukup cuma ucapan. Dan dengan ini saya ndak akan bercuap di twitter pas tanggal 22 nanti, saya cukup menulis ini, karena tulisan ini saya yakin akan terus di sini ndak akan kemana-mana, dan kemungkinan untuk dibaca oleh ibu lebih besar ketimbang saya bercuap di twitter.

Begini, memang ndak bisa dipungkiri kepribadian saya beserta adik dan kakak saya, sangat dominan dipengaruhi oleh peran ibu. Siapa yang pertama kali melindungi saya ketika ayah marah besar kepada saya? Jelas jawabannya ibu. Masih ingat siapa yang mengantar saya untuk pertama kali memasuki Taman Kanak-kanak? Jawabannya jelas ibu juga. Dalam hal kecil, jelas masih teringat juga di memori otak saya, waktu saya masih balita, ibu rela ndak tidur tengah malam cuma untuk menjaga anaknya ini dari nyamuk. Iya, dari kecil kulit saya memang sensitif jika digaruk. Dari itu saya menarik benang putihnya bahwa ibu juga akan senantiasa melindungi saya dengan caranya sendiri, dengan cara lembut dan tanpa emosi, dengan cara yang berbeda dengan ayah. Sangat begitu terasa ketika ibu melepas saya untuk tinggal jauh (bilang saja jauh ya, meski cuma Probolinggo – Malang) darinya ketika saya mulai menempuh pendidikan S1 saya di Malang. Masih ingat betapa harunya ibu pas itu, seakan ndak rela terus berbisik “kamu hati-hati ya mas, ndak usah macam-macam di kota orang”, hampir 5 kali lebih kata-kata itu terucap pas itu hanya dalam kurun waktu ndak lebih dari 24 jam. Saya tahu, ibu saat itu ndak rela tugasnya untuk menjaga anaknya ini perlahan akan berakhir, pada waktunya.

Sering juga beberapa kali pertanyaan muncul, apa saya diberi ASI eksklusif pas kecil dulu? Lah kok masa pertumbuhannya ndak begitu ideal? Okeh, semuanya akan saya buka di sini. ASI eksklusif jelas sudah diberikan ibu pas saya bayi dulu, banyak bukti cerita autentik yang saya terima yang dapat saya percaya. Bahkan untuk menyambung ASI eksklusif tersebut, saya masih menerima asupan susu rutin (susu Sustagen kala itu, saya masih ingat) hingga saya memasuki kelas 1 SD, meski tahu saya ndak suka susu ibu tetep berusaha memaksa saya. Mengenai pertumbuhan saya yang dibilang ndak ideal, mungkin lebih disebabkan oleh penyakit yang sudah harus saya terima semenjak saya lahir, orang-orang terdekat saya pasti tahu hal ini.

Meski saya sebagai anak laki-lakinya, bukan berarti saya ndak dekat sama ibu, masih kental ikatan batin itu. Ibu seakan punya sinyal di belahan bumi manapun saya berada. Ibu selalu tahu saat saya senang dan saat saya begitu terpuruk tanpa beliau bertanya sebelumnya kepada saya. Beberapa kali terbukti, saya percaya itu. Sampai suatu saat saya putus sama pacar pun ibu tahu duluan, meski saat itu saya sama pacar sudah janjian menutup rapat masalah tersebut dan ketika beliau nelpon pas itu posisi saya masih berada di Jakarta, tapi beliau ndak tahu kalau saya lagi di Jakarta.

Kalau ada yang bilang ibu saya itu norak, saya akui iya. Tapi dibalik kenorakkannya, sebagai anak, saya sadar betul apa yang dilakukan ibu tersebut semata untuk menghibur dan mencairkan suasana dalam keluarga ini. Ibu dengan usaha kenorakkannya tersebut terbersit jika beliau ndak mau terliat beban berat yang beliau pikul, seberapa besar penderitaan beliau, bahkan di saat beliau sedang sakit sekalipun. Dan saya cukup bangga dengan kenorakkan ibu ini.

Hingga detik ini masih banyak sekiranya petuah-petuah ibu yang masih sangat saya butuhkan. Petuah yang membentuk idealisme tersendiri buat saya sendiri. Kelak, ibu dari anak-anak saya sendaknya seperti ibu saya sendiri, ya meski itu sulit karena ibu saya sendiri sudah sangat begitu sempurna di mata saya. Ibu, saya masih butuh engkau untuk menyeleksi calon ibu dari anak-anakku kelak, karena engkau ndak akan pernah salah dalam menilai hal ini…

Comments

  1. Ada perasaan bagaimana gitu baca ini... so sweet hehe. Kangen Ibu jadinya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts