1st Open Mic Stand Up Comedy Malang, My 1st Open Mic Too

Huahhahha, speechless. Baru saja nekat-nekatan nyoba open mic stand up comedy, open mic pertama kalinya di Kota Malang.

Beberapa sebelumnya saya menyiapkan materi. Untuk pemula, ternyata susah juga mencari ide materi meski sebenarnya banyak yang dapat dijadikan materi. Salah satu jalan untuk mencari ide bisa dilakukan dengan observasi, apa yang dapat diamati yang sekiranya menimbulkan beberapa pertanyaan dan membuat diri gelisah dengan keadaan tersebut. Ambil saja obyek yang dekat dulu dan yang paling mudah, sedang gelisah sama kekurangan di diri sendiri seperti saya yang punya postur pendek, bisa mengeksplorasi hal tersebut untuk dijadikan materi seperti bagaimana jika punya pacar yang lebih tinggi, bagaimana ketika dianggap masih anak-anak sama orangtua pacar, bagaimana kependekan tersebut ternyata bermanfaat ketika mengantri sembako, bagaimana jika pas duduk sambil nyetir mobil dikira polisi nyetirnya sambil ndlosor tidur, dan lain sebagainya. Materi juga bisa didapat dari observasi kebiasaan orang, iklan, film, keadaan di tempat umum, kebijakan politik pemerintahan, dan banyak lagi yang lainnya. Manfaatkan momen terbaik (momen galau) untuk menentukan obyek sekiranya itu cukup membantu, misalnya pas melamun, kalau saya sih biasanya pas lagi di bus dan malam sebelum tidur.

Setelah menemukan materi, sebaiknya segera tulis poinnya di coret-coretan biar ndak lupa pas mau ngembangin lawakannya, pas nyusun set up (bagian yang ndak lucu) dan punchline-nya (bagian yang lucu). Setup dan punchline bisa dibilang nyawanya dari materi stand up comedy. Punchline dari sebuah materi (di sini masih dalam setupnya) bisa didapat asal kita cerdik dan kreatif mencari bagian mana yang dapat dilucukan dan akan dilucukan seperti apa. Contoh...
"biasanya cewek kalau pacaran itu minta dirangkul sama cowoknya, katanya sih biar si cewek merasa aman, tentram, dan romantis katanya, di mall sering kita" sebagai setup
"itu jadi petaka jika cowok punya pacar yg jauh lebih tinggi darinya, mau merangkul pundak gimana cara lah wong ndak nyampai, mau merangkul pinggangnya malah nanti dikira megang bawahnya pinggang" sebagai punchline.

Ndak cukup sampai di situ, ternyata masih ada hal lain yang kudu diperhatikan lagi. Untuk comic (comedian mic, sebutan orang yang tampil stand up comedy) pemula seperti saya tentunya akan membuat sedikit-sedikit pengen ke kamar mandi ketika mau open mic pertama kalinya di hadapan penonton, penonton yang mungkin punya ekspektasi besar ingin melihat tontonan yang menghibur yang tak peduli kalau yang mau open mic ini sebenarnya masih amatiran. Pas di Ria Djenaka, untuk open mic Stand Up Comedy Malang pertama kalinya, saya juga ndak nyangka penonton sebegitu banyaknya, seluruh kursi full booked sampai ada yang ndlosor-ndlosor juga, padahal lineup comic yang mau tampil 90an% (baca 9 dari 10 comic) merupakan comic yang baru pertama kali tampil juga, mereka semua (termasuk saya) mengaku yang penting berani tampil dulu, lucu kemudian. Apapun meski sering ngomong langsung di depan publik, grogi ternyata tetep berlaku buat saya, apalagi ternyata mendapati tampil di awal acara. Beneran aja begitu naik ke panggung, kaki reflek gemeteran juga, tangan dingin sedingin dinginnya padahal ndak bawa es batu, tatapan langsung tertunduk suram beberapa detik pas liat ratusan pasang mata penonton yang memadati Ria Djenaka tertuju ke arah saya, alamak. Beberapa detik langsung nyoba memburamkan penglihatan, di awal sebisa mungkin menganggap sebenarnya ndak ada penonton di depan, cukup fokuskan ke materi. Begitu uda nangkep ke materinya, alhamdulillah ternyata bisa lancar juga hingga akhir. Tapi ternyata ndak semua materi stand up yang uda disusun dicatet sedemikian rupa, belum bisa sepenuhnya saya eksekusi dengan baik, bahkan beberapa materi juga lupa ndak dieksekusi. Ternyata juga terlalu banyak materi, terlalu susah untuk mau mengeksekusi yang mana, efeknya bakal susah juga naruh klimaksnya di mananya. Ya ndak apa, ndak usah teralu dipaksa semuanya dieksekusi juga, melihat penonton ikut tertawa itupun uda alhamdulillah. Tapi ketika emang sulit membawa penonton tertawa karena emang materinya ndak lucu, ya bisa sih tricky aja sambil lugu ngomong "yah ndak ada yang lucu ya? yang ini ndak lucu, gagal, coret", kejujuran seperti itu terkadang malah bisa dimaklumi penonton dan penonton malah bisa tertawa. Ya harap maklum saja ya kakak, itu untuk pertama kalinya kakak...


Ya seperti itulah gambaran open mic Stand Up Comedy Malang pertama kalinya, open mic saya pertama kalinya, teman-teman yang ada di Malang. Malam 23 Oktober 2011 yang begitu istimewa, awal dari sejarah stand up comedy dan para comic di Kota Malang. Yang ndak sempat datang dan menonton kegilaan para comic Malang, nantikan saja open mic selanjutnya dengan follow twitter @StandUp_MLG

saya, admin Stand Up Malang, dan Reggy Hasibuan

Comments

  1. Kalau di Spain acara comic ini sudah menjelma menjadi prime-time TV yg disebut "el club de la comedia", materi2 mereka uuuuaneh dan kaya, sayang dalam bahasa spanyol...:)

    ReplyDelete
  2. waaa serem juga pengalaman pertama open mic..
    btw, aku juga (mau) open mic pertama kali mas. bagi tipsnya biar lancar dan ga pingsan di stage dooong~
    thanks in advance and viva standupcomedyindo!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts