Mensupport Manchester United Dengan Hati, Bukan Emosi

Cuma tersenyum aja jika masih ada yang mempertanyakan kecintaan saya kepada salah satu klub di belahan Inggris, Manchester United (selanjutnya ditulis United). Kecintaan saya ini dimulai sejak lama ya, sekitaran sejak SD, kalau ndak salah sekitaran kelas 2, bermula ketika Ayah membelikan kaos berwarna abu-abu biasa, warna merah di lengan, bersablon logo United di depannya. Jelas saya masih ndak mengerti apa-apa pas itu, tapi saya udah mulai cinta sama klub sepakbola ini.

Selanjutnya, waktu demi waktu membiarkan kecintaan saya terhadap klub ini makin besar, juga mulai cinta kepada pemainnya salah satunya Ole Gunnar Solskjaer, padahal saat itu jarang sekali (atau mungkin ndak ada) bocah seumuran saya yang mengidolakan Solskjaer, kebanyakan pas itu masih mengidolakan Raul, Del Piero, Batistuta, Figo, Beckham, dan superstar sejenisnya. Masih ingat, tiap bermain bola di lapangan paving sekolahan SDN Sukabumi 2 dan mencetak gol selalu menirukan selebrasi seperti Solskjaer sambil berlari ke teman tandem saya yang mengidolakan Scholes, Angga Kharisma, lalu bilang “yeah ole ole ole gol”, dan tanpa tersadar kalau bola yang ditendang tadi udah memecahkan kaca sekolah tetangga, SDN Sukabumi 8. Di tiap buku pelajaran juga ndak pernah bisa terhindar coretan angka 20 di mana-mana, ulah tangan saya, eh ndak cuma di buku pelajaran saja deng. Di tiap kaos untuk bermain juga selalu mencoba menyablon manual sendiri angka 20 dengan menggunakan cat astro. Ya, ketawa sendiri kalau mengingat itu. Tahun 1999, tersadarkan bahwa saya ndak salah cinta sama United dan Solskjaer ini, di final Champions League 1998/1999 ternyata Solskjaer menjadi pencetak gol penentu kemenangan dramatis United melawan Bayern Munich melalui tambahan waktu masa-masa injury time. Meski menang dan sukses trebble winner, tapi sejak itu saya janji di diri sendiri, jadi apapun kondisi United kelak, saya akan tetap mensupport klub ini.

Menjadi supporter klub bola, apalagi klub bola dari luar negeri ternyata ndak mudah. Informasi pas itu masih apa adanya sulit didapat, internet masih jadi sesuatu yang terlalu wah mewah. Lebih banyak informasi didapat dari koran, televisi (inipun sekali dalam seminggu), atau ketika ingin mengetahui update skor hasil pertandingan tercepat selalu terbiasa untuk mendengarkan radio di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Tentu saat ini untuk mengetahui update skor bisa kita ketahui di mana saja cuma dengan menggunakan hp dan koneksi internet.

Akses informasi yang mudah saat ini tersadari atau ndak ternyata membuat suatu permasalahan lain dalam menjadi supporter klub yang baik dan benar. Terkadang bukan informasi yang didapat, justru provokasi sesat yang terhelat. Kalaupun dulu jaman-jamannya Solskjaer (ceritanya jadi patokan), ya emang udah ada provokasi, tapi biasanya cuma sebatas guyonan kecil antar teman sepermainan di sekolah ataupun di kampung, itupun tanpa adanya kata-kata jorok. Sekarang coba, bahkan ada oknum yang sengaja menyesatkan informasi mengenai sepakbola dengan doktrin-doktrinnya yang terliat bijak tapi aslinya (maaf) bejat. Belum lagi, anak-anak kecil yang sekarang dengan mudah mengupdate status di sosial medianya dengan misal mengolok-olok klub x dengan sebutan (maaf) tai lah, jancuk lah, apalah ketika mereka menyanjung klub y. Mereka mudah terprovokasi ikut-ikutan tanpa tau sebab mereka kenapa membenci klub x tesebut. Provokasi dan menjelek-jelekkan klub lain menghancurkan makna dari arti kata support itu sendiri.

Tahun 2010 ini, saya sendiri mencoba untuk bergabung dengan yang namanya fans club. Karena saya sedang berdomisili di Malang dan mencintai United, saya bergabung dengan United Indonesia Malang di bawah naungan United Indonesia. Setelah beberapa kali nonton bareng United terdampar di basecamp klub lawan, akhirnya saya bisa nonton bareng juga bersama pecinta United lainnya di basecamp United Indonesia Malang, di Kedai Kopi Serambi, Malang. Dari fans club ini saya belajar banyak juga bagaimana mensupport klub kesayangan dengan fanatik namun tanpa intrik. Di sini saya bisa meluapkan kemenangan jika United kalah dan introspeksi ketika United kalah tanpa embel-embel menghujat klub lain. Di sini saya malah bisa bermain futsal bareng, jalan bareng, nonton bareng, bhakti sosial bareng bersama fans club lainnya (selain United Indonesia Malang) dengan rasa persaudaraan yang kental. Jika pemain sepakbolanya saja masih menghargai pemain lawan dan fairplay kenapa kita yang sebagai supporter kudu jotos-jotosan? :)

Comments