Perang Kurs, Perekonomian Kembali Resah?

Belum juga perekonomian pulih seutuhnya pasca adanya krisis finansial di Amerika Serikat (AS) yang berdampak bagi hampir seluruh negara di dunia akhir tahun lalu, ketidakpastian perekonomian di dunia kembali menguat dengan adanya perang kurs.

Kurs merupakan nilai penukaran uang antara satu valuta dengan valuta lainnya, yang dibedakan antara kurs beli (bid/buying rate) dengan kurs jual (offer/selling rate). Jadi jika perang kurs berarti negara yang bersangkutan di dalamnya sedang memainkan kurs jual mereka terhadap valuta lainnya hingga di luar batas normal, dalam hal ini mereka “sengaja” mendepresiasi kurs mereka hingga terlalu rendah (under value).

Dimulai dari Bank Cadangan Federal Amerika Serikat mencanangkan pelonggaran kuantitatif dengan menggunakan dollar AS untuk membeli berbagai jenis surat obligasi dan aset bermasalah. Serta kebijakan otoritas moneter AS yang mematok suku bunga mendekati nol persen. Hal demikian membuat beberapa mata uang negara lain terapresiasi terhadap dollar AS, bahkan beberapa negara tercatat menciptakan rekor baru nilai tukarnya terhadap dollar AS. Nilai dollar terdepresiasi, ya mereka memang sengaja demikian. AS di satu pihak mempertahankan dolarnya yang lemah untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, di lain pihak juga mempolitisir masalah kurs, agar banyak negara terpaksa secara pasif mengintervensi kurs mata uangnya. Tidak pernah kapok, lagi-lagi AS yang berulah.

Merasa nilai tukarnya terlalu tinggi (over value), tanggal 15 September, Jepang yang pertama kali memulai intervensi dengan melepas yen membeli dollar AS dengan harapan nilai dollar AS kembali terapresiasi ataupun paling tidak yen juga ikut terdepresiasi. Langkah tersebut diikuti juga oleh negara-negara lainnya seperti Thailand, Brasil, dan terlebih China yang paling semangat berniat mendepresiasi nilai mata uang mereka.

Dalam momen demikian, dalam perekonomian terbuka, tentu saja mereka akan mengintervensi kurs, semangat berlomba-lomba sengaja mendepresiasi nilai mata uang mereka, dengan demikian mereka berfikir perekonomian dan pelaku ekonomi di negara mereka akan terlindung, ekspor mereka setidaknya tidak terancam oleh negara-negara berkembang lainnya. Mereka belomba-lomba karena memang tidak ada yang bisa melarang mereka untuk mendepresiasi nilai mata uang mereka, that’s legal!

Jika menilik keikutsertaan negara-negara yang tak lain juaga mitra perekonomian Indonnesia dalam mendepresiaskan nilai mata uangnya, maka Indonesia juga berpeluang akan terkena dampaknya.

Dengan menguatnya nilai tukar rupiah memang gelontoran modal asing terus menerus masuk, namun terus menguatnya nilai tukar rupiah tersebut akan membahayakan bagi eksportir. Terutama ancaman dari AS dan China, yang notabene pengekspor terbesar ke Indonesia saat ini. AS dan China juga serius mengklaim tidak akan menguatkan kembali nilai tukar mata uang mereka. Selain itu, juga berpotensi menaikkan inflasi akibat perilaku belanja berlebihan (panic buying). Permintaan konsumen yang tinggi (excess demand) akan memicu merangkaknya harga-harga kebutuhan dasar. Kondisi ini semakin parah apabila naiknya inflasi tidak dibarengi kemampuan daya beli masyarakat. Ini bisa mengakibatkan lingkaran setan.

Dengan begitu, jika tidak diantisipasi, sejak dini, perang kurs yang terjadi tersebut mempunyai konsekuensi serius bagi Indonesia, sangat serius bagi eksportir. Ketika AS dan China tidak dapat lagi diintervensi untuk menguatkan kembali nilai tukar mata uang mereka, maka Indonesia sendiri yang harus melakukan antisipasi, antisipasi untuk melindungi eksportir. Segera!

Hingga saat ini, hingga nilai rupiah sekitar Rp 8.900 per dollar AS, BI mengatakan ekspor Indonesia masih aman-aman saja, tidak terlihat mengalami penurunan, atau dampak serius lainnya, mereka beranggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat dan tak tergoyahkan. namun baiknya tidak sampai menunggu hingga benar-benar dampak dari perang kurs ini terasa. Jangan sampai menganggapnya sepele.

Ada sejumlah faktor yang diperkirakan dapat membantu mengatasi isu tersebut. Pertama, sebaiknya jangan membiarkan rupiah menguat lebih jauh saat ini karena akan membuat barang-barang Indonesia menjadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan barang-barang China. Saat ini yang terbaik adalah membiarkan rupiah berada di level fundamentalnya, yaitu Rp 9.100-Rp 9.300. Kedua, Pemerintah Indonesia hendaknya bisa mendorong penurunan suku bunga pinjaman lebih lanjut sehingga dapat meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia. Faktor-faktor tersebut diharapkan dapat memperkecil dampak perang mata uang yang mungkin akan dirasakan oleh Indonesia.

Bagi seluruh negara yang terlibat, apabila perang kurs terjadi dalam waktu yang lama, maka dampaknya justru kontraproduktif. Akan terjadi persaingan yang tidak sehat dalam perdagangan dunia dan justru menghambat proses permulihan ekonomi. Oleh karena itu, harus ada mekanisme global untuk menghambat praktik ini.

Comments

Popular Posts