Alasan (sok) Mengertinya

Mencoba memahami orang lain di saat penjajakan ndak semudah mengerjakan soal ujian ekonometrika dengan rumus-rumusnya. Eh ekonometrika saja sulit, lah kok dibilang mudah, nah berarti mencoba memahami orang lain itu sulitnya sulit bikin sembelit. Semacam irrasional, tanpa sadar pelan-pelan mempelajari ilmu nujum dan sok-sokan meramal probabilitasnya. Berkali-kali bertanya dalam diri sendiri, apa yang harus dilakukan untuk membahagiakannya, apakah yang sudah dilakukan sudah dapat membahagiakannya, apa dia suka atau ndak, apa dia juga mikir saya atau nddak, apa dia masih sering makan kemenyan atau ndak kok kadang ada kadang menghilang ndak tampak, yang sebenarnya hanya dia yang punya kunci jawabannya. Hanya dia, bahkan ndak orang terdekatnya sekalipun. Namun sebenarnya itu semua dapat terbaca dari saya saat berkomunikasi dengan dia. Sayangnya saya lagi-lagi juga sering ndak menyadari hal ini, dengan kata lain sukses gelap terbutakan.

Misalnya ketika mencoba ngomong face to face, matanya, jelas dari matanya sebenarnya sudah terbaca. Lalu ketika jalan bareng, jelas bisa terbaca dari cara dia menikmati atau ndak tiap momennya, dia nyaman atau ndak. Akan terlihat menyenangkan ketika dia ndak sibuk dengan hp-nya dan joke-joke saya (ndak frontal juga, namun kudu joke yang soft) mampu mencairkan suasana. Apalagi setelah itu saya bilang “hari ini aku seneng... tau kenapa? seneng punya waktu yang berkualitas sama kamu”, jelas akan bisa terbaca dari reaksinya membalas kata-kata tersebut. Juga dari hal komunukasi sekecil lewat sms, bagaimana cara dia menghargai tiap sms yang saya kirim, bukan dengan alasan mengkambinghitamkan provider. Namun bukan berarti juga saya berhak memberondongnya dengan sms-sms yang sebenarnya sangat ndak penting, justru akan mengurangi esensi dan kredibilitas saya, saya yang memang bukan siapa-siapa dia yang sebenarnya esensi dan kredibilitas saya masih nol putung dihadapannya. Dia menghargai sms saya juga bukan berarti dia suka, mungkin saja karena dia juragan pulsa atau mungkin juga karena dia pengangguran yang ndak ada kerjaan lain selain hanya memadu kasih dengan hp-nya. Pastinya dia yang lebih mengerti.

Berkomunikasi dengan dia terkadang juga menuntut kekreativitasan. Misalnya sms aja kudu ditata sedemikian rapi tiap katanya seakan mau mengirim surat ke menteri atau presiden. Pak menteri ataupun pak presiden ndak akan suka dan mau disms “lagi ngapain?”, pintar yang tertunda. Padahal belum tentu juga sms yang saya kirim dia baca atau ndak, bisa saja melihat sms dari saya saja sudah langsung dia delete sebelum baca isinya seakan sms yang saya kirim mengandung unsur haram dan dapat menimbulkan najis mugholadoh. Namun jangan sampai juga mati perkataan saat dia mengeluarkan kata yang sifatnya memancing ataupun defense.

Contoh 1
saya : eh lama ya kamu perginya? yahhhh
dia : hmm iya mas, kenapa emang? :)
saya : hmm berarti lama juga ya kalo nunggu oleh-olehmu (padahal saya kangen sama situ, ndak mau lama-lama situ perginya)
Contoh 2
saya : eh lagi di mana?
dia : mau ke kampus mas :) kenapa?
saya : mau dianter ndak?
dia : ngrepotin nanti mas, ndak usah :D
saya : ndak, kebetulan mau ke arah kampus jg (padahal ndak mau kemana-kemana)
Contoh 3
saya : belum tidur?
dia : belum ngantuk mas, masnya? :)
saya : ndak, ndak bisa tidur ini ndak tau kenapa (padahal jelas-jelas saya ndak bisa tidur mikirin situ)
Contoh 4
saya : eh besok ada kuliah ndak? jam berapa?
dia : ada mas, pagi, kenapa? :D
saya : sama berarti (padahal ndak sama dan cuma ingin punya waktu sama situ)

Dari reka potongan-poongan sms tersebut dapat terbaca, kias samar terbaca sebenarnya memang ndak pernah ada harapan. Alasan konvensional yang saya lontar tersebut juga sebenarnya cacat banget untuk menjawab pertanyaan defense “kenapa” dari dia. Ndak patut dipraktekkan, akan sangat berisiko terhadap kewarasan anda... let’s improve your creative method but i want to break it, yet, too much tired..

Comments