Yap, Semuanya Pasti Bisa Terselesaikan

Semuanya pasti bisa terselesaikan, meski kadang awalnya bilang ndak mungkin sambil geleng-geleng keyak tuyul botak (emang ada ya tuyul ndak botak?) yang biasanya ada di jam arab-araban. Meski memang butuh proses yang lama sekalipun, ya ndak bakal terasa lama seh selama itu ndak dianggap menjadi beban. Mungkin mending lama-lama nglamar jadi petugas bulog dah kalau sedikit2 ngomongin beban terus hhehee. Wew tapi jangan sampai juga meremehkan hal yang kecil. Hal kecil lama-lama willing has a meaning atau mungkin lebih-lebih disalahartikan. Tapi masih bisa meremehkan lah jika kucing tetangga sembelit gara-gara kebanyakan makan momogi rasa ikan asin. Oke lost focus. Sekali lagi, menganggap suatu permasalahan ndak menjadi beban bisa menjadi tindakanyang bijak meski terkadang terkesan bejat.

Kalau ndak ada kedok mengenai masalah orang tua yang mau cerai, sudah pasti saya ndak akan masuk di kehidupannya, masuk terlalu jauh. Kalau saja ada yang cerita “mas, orangtuaku mau cerai, aku takut” lalu saya bilang “syukur lah” mungkin saya udah kena azab anak durhaka sekarang, ya meski bukan orangtua saya tapi tetep lah sama-sama namanya orangtua. Posisinya di sini sebenarnya saya sama sekali ndak peduli dengannya tapi saya peduli sama orangtuanya, overally keluarganya. Kalau saja ini dianggapnya beda, saya care sama dia bukan orangtuanya, jelas ini persepsi yang salah. Dari awal sinyal yang saya perlihatkan sudah jelas juga, begitu keluarga dia membaik saya pasti juga akan meninggalkannya, gak lebih. Ketika ada yang ndak rela saya meninggalkannya, justru saya bertanya-tanya ini ada apa sebenarnya, sama halnya bertanya-tanya kapan Dian Sastro menikahi saya, harap maklum saya bodoh. Ndak sekali dua kali, saya mohon pamit, tapi tetep saja ditahan. Dia minta begitu, oke saya turuti dengan cara saya sendiri, terus terus dan terus menuruti hingga ada celah dia lengah saya akan pergi. Proses ini yang sangat menguras bak mandi, eh salah deng menguras esmosi. Jujur saya juga takut kalau ini terlalu lama, manusiawi atau ndak saya juga akan ikut kebawa main hati, dan saya ndak punya tujuan untuk itu. Saya masih milik yang lain di sana, saya cuma ingin ndak mengecewakan yang di sana yang telah berkomitmen untuk saling percaya meski jauh, dan saya tidak mau mengingkari itu. Buat yang jauh di sana, maaf ya sayang.

Proses turut-menuruti berjalan alot, hampir ndak ada celah untuk saya keluar. Prosesnya lumayan luaammaaa, tapi saya tetep sabar menuruti semuanya. Sebulan-dua bulan yap akhirnya saya menemukan celah itu, dia juga sebenarnya masih sayang sama mantannya, ini bisa dimanfaatkan. Pelan-pelan secara persuasif saya selalu menekankan “kembali saja ke mantanmu kalau masih sayang, kalau masih cinta”, berharap omongan persuasif saya dapat mempengaruhinya. Sujud syukur, suatu hari dia menyatakan “aku milih ke mantanku”, wow akhirnya ini benar-benar bisa diakhiri, maem lalapan tahu tempe langsung mendadak nikmat seperti maem di hokben . Ini yang saya ingin dari kemarin-kemarin. Dengan begini hilang sudah permasalahan, yang awalnya dia bilang “aku ndak bisa kalau ndak ada mas di sini, aku ndak mau mas ninggalin aku”, sekarang telah berbalik dengan senyum dari rautnya dan juga saya. Karena saya sangat percaya dia ndak akan kenapa-kenapa, tanpa saya sekalipun... Karena saya yakin, ndak ada saya pun dia pasti bisa lebih baik... Percayalah, kamu...

Comments